Habibie dan Ainun

Kemarin saya, Gntong , dan Decke menonton Habibie dan Ainun di Platinum Screens Margo City, Depok.. Sebenarnya sih rencana menontonnya sudah dibicarakan sejak libur Natal kemarin, tapi denger2 tanggal segitu studio yang memutar film itu sedang penuh2nya.. Sold out terus bo tiketnya.. Sempat juga terpikir untuk menunda nonton sampai bulan depan, tapi takut keburu basi.. Hehehe.. Akhirnya berangkat lah kami ke Margo City untuk menonton..

Pemutaran pertama jam 12.15, tapi akhirnya kami memilih untuk menonton pemutaran kedua, jam 13.15, supaya sempet makan siang dulu.. Hihihi, maklum deh, jalan bareng dua gentong sih.. Tiket sudah di tangan, terus meluncur deh cari makan.. Clingak-clinguk sebentar pilih2 tempat makan, akhir mendarat di Mister Baso.. Lumayan enak makanannya.. Kenyang deh.. Setelah itu meluncur dulu ke Oke Shop karena saya ada rencana membeli hp baru.. 45 menit di Oke Shop, langsung menuju bioskop.. Si Decke pipis dulu, saya dan Gntong membeli camilan dan minum buat teman nonton..

Di dalam bioskop ternyata studionya tidak penuh terisi penonton, tapi memang lumayan rame.. Filmnya sendiri menarik, tidak terlalu banyak konflik dengan drama yang terlalu berlebihan, dan mungkin bagi sebagian orang ritme film ini akan terasa sedikit lambat.. Tapi untuk saya sih tidak masalah ya.. Karena menurut saya pribadi, hidup itu tidak selalu penuh drama kok.. Kehidupan rumah tangga pastilah tidak mungkin terus-menerus adem ayem, tapi tidak mustahil juga selalu berjalan dengan penuh cinta seperti yang ditunjukkan oleh Pak Habibie dan Ibu Ainun di film ini..

Bagi saya sih filmnya menyenangkan dan menyegarkan untuk ditonton.. Akting Reza Rahardian sebagai Habibie luar biasa.. Sikap tubuh, pandangan mata, suara, cara bicaranya memang mengingatkan pada sosok Habibie asli.. Saya kan besar di masa Pak Habibie begitu dikenal karena kecerdasan dan terobosan2nya di bidang kedirgantaraan yaa, jadi saya masih cukup ingatlah gaya bicara dan sikap tubuh Pak Habibie itu seperti apa..

Mungkin karena faktor nostalgia juga ya, adegan yang paling mengesankan di film itu untuk saya adalah saat peluncuran pesawat N250.. WOW!! Seeing it, it feels priceless.. Saya mungkin masih berusia 7 tahun saat adegan film tersebut terjadi di dunia nyata, tapi saya masih ingat betapa bangganya seluruh masyarakat Indonesia saat itu menyaksikan akhirnya negara ini bisa memproduksi pesawat sendiri.. Rasanya merinding banget deh melihat adegan tersebut dalam film🙂..

Adegan2 lain juga berhasil membuat perasaan saya campur-aduk saat nonton.. Terharu saat melihat adegan pencapaian2 Pak Habibie dalam kariernya, seneng saat adegan2 yang lucu, dan sedih saat melihat adegan menjelang kematian Bu Ainun.. Paling nyosss itu waktu gambar terakhir (adegan penutup), yang Pak Habibie (asli) memegang nisan Bu Ainun.. Huaaaa.. Untung sebelum pergi nonton udah janji ke diri sendiri kalau ga akan nangis di bioskop.. Kalo ga udah banjir air mata kali tuh.. Si Decke aja mewek.. Hihihi..

Kesimpulannya, menurut saya film ini sangat layak ditonton.. Sesekali memang kita perlu rehat sejenak dari hiruk-pikuknya kehidupan, mengingat kembali bahwa hidup tidak selalu serumit drama dalam sinetron, bahwa hidup bisa sesederhana duduk makan siang berdua di meja makan keluarga, dan menyadarkan diri sendiri bahwa sering kali yan kita perlukan dalam hidup ini sebenarnya hanya orang yang benar2 mencintai dan menerima kita apa adanya..

Cheers to everyone responsible for bringing this movie to our life🙂..

“Kamu itu orang yang paling keras kepala yang pernah aku kenal. Tapi, kalau aku harus memutar waktu, aku akan tetap pilih kamu.” ~Habibie dan Ainun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s