Tentang Kemacetan

Menjadi penduduk Jakarta, atau setidaknya menjadi orang yang mencari nafkah di Jakarta memang melatih kesabaran kita.. Ya gimana ga melatih kesabaran, coba, kalau hampir setiap hari (baca: hari kerja Senin-Jumat) harus menghadapi kemacetan di jalan-jalan Jakarta yang rasa-rasanya kok makin hari makin parah saja..

Itu juga yang saya rasakan sejak dua bulan lalu diterima bekerja di sebuah perusahaan yang kantornya berlokasi di salah satu kawasan paling macet seantero Jakarta, Mega Kuningan.. Every single day, saya harus berangkat pagi2 sekali, jam setengah enam pagi.. Telat lima menit saja keluar dari rumah, antrean calon penumpang di halte transjakarta Ragunan (tenpat saya tiap hari berangkat naik TJ) pasti sudah bertambah dua kali lipat dari antrean yang akan saya temui kalau keluar rumah jam setengah teng.. Haduuuhh..

Belum lagi calon2 penumpang yang “ganas2”, mau masuk ke bus aja dorong2an terus.. Sudah tidak terhitung berapa kali sepatu saya terinjak oleh penumpang lain saat berdesakan masuk ke bus.. Malahn tali tas saya pernah nyaris copot akibat begitu hebohnya dorong-mendorong ini.. Yang lebih parah itu kalau jam pulang kantor.. Berhubung bus TJ-nya yang SELALU penuh dan datangnya SELALU lama, begitu ada bus yang berhenti di halte, semua penumpang langsung tidak sabar ingin cepat2 masuk ke dalam bus.. Alhasil, berebutan, dorong2an lagi deh..

Di dalam bus pun kalau busnya sedang amat sangat penuh, umpel2an deh.. Mau napas aja susah.. Kadang malah rasanya ga perlu pegangan lagi di bus saking penuhnya bus, soalnya kita ga bakalan jatuh karena badan kita ketahan penumpang2 lain.. Hehehe.. Mengenai balada berdesak2an dan dorong2an di bus ini, saya malah pernah bercanda kalau ini bikin dada daya ukurannya jadi ga sama lagi karena kegencet.. Wkwkwkwk..

Perjalanan menggunakan TJ memang membuat lebih cepat sampai di tujuan.. Secara kan dia pny jalur sendiri yaa.. Tapiii, antre menunggu kedatangan si bus ke halte itu lho yang menyebalkan.. Karena saya orangnya ga suka menunggu, kadang saya lebih memilih naik kopaja saja.. Tapi risikonya ya terkena macet di jalan, soalnya kopaja kan ga punya jalur sendiri.. Lagipula busnya kan tidak senyaman TJ yang berAC.. Ya, intinya apapun pilihan transportasinya, warga Jakarta memang akan selalu tersandera dengan kemacetan.. Sampai rumah juga nanti rasanya badan rontok semua.. Fiuuhh..

Tapi saya jadi belajar banyak tentang melatih kesabaran selama dua bulan terakhir ini.. Saya jadi ga pernah alpa terapi napas, EFT, dan rotasi zikir untuk membantu saya tetap berpiki positif selama perjalanan pulang dari kantor.. Dan memang ya, naik kendaraan umum itu membuat kita bisa melihat banyak sisi lain dari kehidupan yang mungkin luput kita amati saat kita naik kendaraan pribadi.. Entah itu pemandangan kota, orang2nya, atau yang lainnya.. Setidaknya saya bersyukur Allah selalu punya cara untuk membuat saya belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi🙂..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s