Growing Up In Style ;p..

Saat tadi sedang berpikir akan menulis apa lagi untuk blog, tiba-tiba terpikir untuk menulis soal orang tua, terutama mama. Lucunya, ide itu terlintas saat saya sedang jebyar-jebyur di kamar mandi. Hehe. Karena cerita tentang mama pasti panjang bangeeeettt, jadi saya putuskan untuk menuliskan sesuatu yang tadi saya pikirkan di kamar mandi, tentang bagaimana saya dibesarkan dalam “gaya”. Istilah kerennya, I was raised in style. Hehe..

Mama saya adalah salah satu orang paling stylish dan fashionable yang pernah saya kenal dalam hidup saya. Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat mama sibuk pilih-pilah pakaian saat ingin pergi ke suatu tempat. Kadang saya berpikir kebiasaannya memilih dan memilah pakaian itu sangat merepotkan dan buang-buang waktu. Mama saya bisa lho sibuk memilih pakaian apa yang akan dia pakai ke suatu acara sejak dia menerima undangan acara tersebut. Misalnya nih dia diundang ke acara pernikahan, dia sudah akan sibuk memikirkan pakaian yang akan dia kenakan, walaupun acaranya tersebut baru akan diselenggarakan bulan depan.

Saya selalu berpikir, kenapa sih tidak pas hari H ambil saja pakaian apapun di lemari yang sedang mood dia pakai. Wah, kalau saya bilang begitu ke mama, dia bisa nya-nyap banget. Buat dia, penampilan itu penting karena itulah hal pertama yang akan dilihat orang lain dari diri kita. Orang boleh tidak kenal “dalamnya” diri kita, tapi penting untuk orang tersebut melihat kita berpenampilan menarik, begitu prinsip mama. Dulu saya sih tidak setuju, terkesan basa-basi menurut saya. Tapi beranjak dewasa, saya justru mengamini prinsip mama itu.

Koleksi pakaian, sepatu, dan mama seabrek-abrek. Beragam merek dan warna ada di lemari koleksinya. Mama saya tidak suka berdandan, tapi itu tertupi dengan apparelnya yang selalu terlihat bagus (paling tidak menurut orang-orang yang kenal mama). Sejak saya kecil mamalah yang memilihkan pakaian seperti apa yang sebaiknya saya beli, pakaian apa yang cocok saya pakai, dsb. Bukannya saya tidak mandiri sih, tapi memang pilihannya mama selalu bagus di mata saya. Hehe. Ada satu prinsip mama yang juga selalu saya ingat. Mama tidak suka mengikuti tren. Buat mama apa yang sedang tren belum tentu cocok dia pakai. Itu yang selalu mama ajarkan ke saya. Percuma mengikuti tren kalau tidak cocok untuk kita atau kita tidak nyaman memakainya.

Semasa kecil, tidak pernah sekalipun saya memakai sesuatu yang sedang tren dan dipakai hampir semua teman saya di sekolah. Saya ingat pernah waktu saya SD ada tren anting Mickey Mouse. Ampun, hampir semua teman cewek saya pakai anting itu. Saya pun ikutan merengek ke mama untuk membelikan anting yang sama. Jawab mama, “Ngapain sih pake anting norak kayak gitu. Kalau semua orang pake barang yang sama, berarti barang itu pasaran.” Hiks, pelit banget si mama. Tapi ternyata beberapa hari kemudian mama membelikan saya anting baru. Bukan yang bentuk kepala Mickey Mouse. Eng ing eng, ternyata antingnya itu berbentuk segitiga, ada embosan tanda tanya, dan mereknya Guess. Hah, kaget saya, saya pikir anting macam apaan sih itu. Saya sedikit tidak ikhlas memakainya. Bertahun kemudian baru saya tahu Guess itu merek mahal, dan harga anting Guess saya itu lebih mahal dari anting-anting Mickey Mouse teman-teman saya.

Cerita serupa juga terjadi saat SD tahun 90an dilanda demam sepatu All Star hitam-putih, dan sepatu yang bagian belakangnya ada lampu yang bisa menyala. Mama saya melarang keras saya meminta dibelikan sepatu-sepatu semacam itu. Cuma anak kampungan yang pakai sepatu seperti, kata mama saya. Hehe. Masa saya SD itu saya sudah pakai sepatu-sepatu merek Nike, Adidas, atau Fila yang pastinya harganya berkali lipat lebih mahal dari sepatu-sepatu teman saya yang sedang tren saat itu. Menurut mama, untuk apa punya barang ngetren dan murah kalau cuma untuk dipakai saat sedang trend dan kualitasnya semurah harganya. Ini yang selalu saya ingat sampai sekarang. Ada alasan kenapa merek-merek mahal itu harganya mahal dan terkenal sampai bertahun-tahun: kualitas. Maka saya pun selalu tanamkan ke diri saya setiap ingin belanja, lebih baik menabung lebih lama supaya bisa membeli barang yang lebih lama dengan kualitas lebih baik, seperti yang selalu dilakukan mama saya.

Sebenarnya butuh waktu lama untuk saya “meneladani” sikap mama. Perlu waktu lama bagi saya memutuskan gaya berpakain seperti apa yang cocok untuk saya. Dulu saya gendut dan tomboy sekali, jadi saya selalu pakai kaus gombrong dan celana jins kemana-mana. Boro-boro deh pakai aksesoris. Tapi sejak masuk kuliah dan jadi langsing, wuuupps, berubah sekali saya. Dari 3 anak mama, mungkin cuma saya yang mengikuti cara berpakaiannya. Kedua adik saya cuek sekali gayanya. Hehe. Tapi saya bersyukur dulu saya sempat malas memperhatikan penampilan, bersyukur tidak langsung menuruti kebiasaan mama menserasikan penampilan. Karena dengan begitu saya jadi belajar menemukan jati diri saya sendiri tanpa mama harus memaksa saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s