Mudik

Semalam pacar sms ngasih tau dia nonton berita di tivi kalau ada 1 keluarga yang mudik naik motor, dalam kondisi membawa anak balita dan si istri lagi hamil 9 bulan. Ya Tuhan, miris sekali saya mendengarnya. Tapi jujur saya lebih merasa dongkol daripada simpati. Kok ya bisa-bisanya mereka nekat mudik, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dari perantauan ke kampung halaman dengan mempertaruhkan keselamatan begitu??

Saya tahu mudik adalah tradisi tahunan yang bagi banyak orang amat sangat berat untuk ditinggalkan. Setahun penuh meninggalkan kampung halaman, membanting tulang di ibukota, wajar bila ada rasa yang ingin dipenuhi setahun sekali: rasa rindu pada kampung halaman. Bagi banyak pemudik mudik bagaikan mengisi ulang batere. Tidak semua orang bisa menyebut perantauans ebagai rumah. Bagi mereka itu hanya tempat tinggal. House, bukan home. Kampung halaman itulah rumah mereka. Setelah mudik rasanya semangat terisi lagi, siap digunakan untuk menaklukan lagi perantauan.

Saya memang tidak pernah mudik Lebaran. Kalaupun pulang kampung selalu tidak pernah saat libur hari raya. Itupun selalu naik kendaraan umum (baca: kereta api). Dan sudah lama sekali saya tidak pulang kampung ke kampung halaman papa. Sudah belasan tahun mungkin. Jadi saya sudah lupa rasanya gembira pulang kampung. Malah sudah nyaris lupa rasanya pulang kampung, walaupun masih sering kangen kampung. Hehe. Dulu, setiap akan pulang kampung ortu saya selalu menyiapkan dengan matang dan sejak jauh-jauh hari. Tiket dibeli minimal seminggu sebelumnya, barang bawaan dikemas minimal 3 hari sebelum berangkat, dan yang paling penting dana mudik disiapkan jauuuuuuh sebelumnya. Mungkin bisa sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Yang saya tahu, sekarang banyak pemudik memilih untuk naik sepeda motor karena biayanya yang lebih hemat. Apa iya ya? Saya juga kurang tahu, tidak pernah menghitung soalnya. Konon katanya (saya bilang konon karena memang saya tidak tahu kebenarannya) harga tiket angkutan mudik selalu melambung setiap musim mudik tiba sehingga tidak terbeli para pemudik yang berkantung tidak dalam. Maka dari itu mereka lebih memilih naik motor. Padahal sudah jelas mudik dengan motor berkali-kali lipat lebih melelahkan daripada naik angkutan umum.

Saya mungkin tidak pernah merasakan jadi orang yang begitu kekurangan sampai-sampai tidak mampu membeli tiket angkutan Lebaran. Jadi saya mungkin tidak layak mengkritik atau mengomentari para pemudik motor itu. Tapi saya tetap tidak habis pikir, kok ya nekad sekali keluarga itu. Berboncengan bertiga (ibu, bapak, anak) saja sudah menyalahi aturan. Lha wong motor seharusnya hanya ditumpangi maksimal 2 orang. Apalagi ini sebenarnya boncengannya 4 orang, karena si ibu sedang hamil. Hamil tua pula. Siapa yang bisa menjamin perjalanan pasti lancar-lancar saja. Bagaimana seandainya si ibu kelelahan, lalu keguguran. Bagaimana andaikan si bapak kesulitan mengendalikan laju motor karena tumpangan yang terlalu berat? Bagaimana bila anak yang dibonceng itu jatuh?

Kalau saya yang ada di posisi mereka, secara logis saya akan langsung memilih untuk tidak mudik Lebaran. Untuk apa memaksakan diri kalau keadaannya tidak memungkinkan. Toh pulang kampung bisa nanti setelah melahirkan dan bayinya siap dibawa bepergian jauh. Katakanlah mudik menjadi kewajiban yang mendarah-daging untuk keluarga ini tiap Lebaran. Seharusnya mereka bisa bijak menyiapkan dana untuk mudik sejak jauh hari sebelumnya. Saya yakin kok setahun menabung untuk membeli tiket kereta atau bus pasti cukup. Yang penting sudah diniatkan, dan uangnya jangan diutak-atik untuk kebutuhan lain selain mudik. Jauh lebih aman daripada membahayakan keselamatan dengan berboncengan motor dalam keadaan hamil tua.

Mudik seharusnya menggembirakan, bukan menyusahkan, apalagi membahayakan nyawa.

One thought on “Mudik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s