Gerbong Khusus Prempuan, Efektifkah?

Kemarin PT Commuter Kereta Api Indonesia meluncurkan gerbong khusus penumpang perempuan. Dikatakan bahwa program gerbong khusus perempuan ini diadakan dengan tujuan mengurangi pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan yang kerap terjadi di kereta api, terutama KRL. Di tiap rangkaian KRL (saat ini baru jurusan Bogor-Jakarta-Bogor) akan ada 2 gerbong khusus perempuan, yakni gerbong 1 dan 8. Gerbong-gerbong tersebut disulap jadi feminin sekali. Interiornya dinominasi warna merah muda.

Sebagai orang yang beberapa kali naik KRL dan merasakan sendiri betapa tidak nyamannya naik KRL (terutama kelas ekonomi) dalam keadaan berdesak-desakan karena rawan pelecehan dan tindak kejahatan lainnya, saya mengapresiasi pemerintah, dalam hal ini PT KAI karena sudah berinisiatif membuat program ini. Sempat terlintas di pikiran saya waktu menonton beritanya di tivi, “wah, mudah-mudahan ga kayak pemisahan penumpang perempuan dan laki-laki di halte Transjakarta yang cuma bertahan beberapa minggu. Tapi yang paling membuat saya bertanya-tanya justru kenapa gerbong khusus perempuan hanya ada di KRL kelas ekonomi AC dan ekspres, yang notabene lebih sedikit jumlah penumpangnya dibandingkan dengan kelas ekonomi, dan tentu lebih kecil resiko terjadinya pelecehan seksual.

Menurut saya, sudah jelas penyebab utama banyaknya terjadi pelecehan seksual pada penumpang perempuan adalah karena kondisi penumpang yang berdesak-desakan di dalam kereta sehingga memungkinkan lelaki-lelaki hidung belang melakukan aksinya. Ditambah lagi ketiadaan petugas di dalam kereta. Kondisi KRL ekonomi AC dan ekspres tentulah berbeda. Tidak pernah terjadi penumpukan penumpang separah yang ada di KRL ekonomi, sehingga kemungkinan terjadi pelecehan pun lebih kecil.

Keputusan untuk membuat 2 gerbong khusus perempuan di setiap rangkaian KRL ekonomi AC dan ekspres menurut saya menjadi kurang tepat sasaran. Apakah penumpang perempuan di KRL ekonomi tidak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan dari pelecehan seksual hanya karena mereka memilih naik kereta yang lebih murah? Selain itu, apakah 2 gerbong ini akan cukup menampung semua penumpang perempuan? Kemarin saya baca di running text sebuah tivi swasta, katanya PT KAI tahun ini datang 118 KRL baru. Nah, manfaatkanlah kereta-kereta baru itu. Perbaiki jadwal perjalanan KRL yang selama ini sering ngaret supaya tidak ada lagi penumpukan pemumpang di dalam kereta akibat jumlah kereta yang terlalu sedikit. Taruh minimal satu petugas di tiap-tiap gerbong agar keamanan lebih terjamin. Saya rasa ini lebih efektif ketimbang sekadar membuat gerbong khusus perempuan yang belum tentu akan panjang usia programnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s