Berani Hidup, Bukan Berani Mati..

Kemarin pagi saya menonton “Apa Kabar Indonesia” di TVONE. Salah satu topik yang dibahas di acara talkshow adalah terorisme. Ya, terorisme memang sedang jadi topik yang naik daun belakangan ini setelah penangkapan tokoh yang memang sudah sejak lama dikaitk-kaitkan dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Ya, ga usah disebutlah siapa, pasti sudah pada tahu sendiri kok. Lagipula saya malas juga menyebut-nyebut namanya.

Di “Apa Kabar Indonesia” kemarin itu antara lain dibahas tentang perekrutan dan militansi teroris-teroris yang (kebanyakan) beraksi dengan metode bom bunuh diri. Salah seorang narasumber –yang saya lupa siapa namanya dan apa profesinya, menjelaskan panjang lebar masalah ini, termasuk tentang bagaimana para pengebom bunuh diri itu begitu yakin aksinya akan diganjar surga oleh Tuhan karena apa yang mereka lakukan itu dianggap sebagai perjuangan bagi agamanya.

Si bapak narasumber tersebut kemudian mengatakan satu kalimat yang membuat saya tidak henti berpikir seharian kemarin, “Sudah saatnya umat Islam belajar untuk berani hidup, bukan cuma berani mati”. Dueeeng.. Sumpah, saya tercengang mendengarnya. Dalam sekali makna dalam kalimat si bapak. Betapa banyak yang bisa kita renungkan. Saya setuju, mungkin para teroris itu punya keberanian luar biasa untuk mati, tapi mereka tidak punya keberanian untuk hidup. Bagi mereka perjuangan dimaknai sebagai keberanian menjemput ajal, sementara bagi saya perjuangan sesungguhnya sebagai manusia adalah semasa hidup, saat berjuang memenuhi takdirnya sebagai manusia.

Bagi saya, para teroris tidak punya keberanian cukup untuk menghadapi tantangan-tantangan yang hidup tawarkan. They don’t have what it takes to strive. Papanya pacar saya pernah berkata bahwa bahkan dalam perang pun , misalnya di Palestina, menjadi pelaku bom bunuh diri tidak bisa dibenarkan karena tenaganya lebih bisa digunakan untuk perjuangan bangsanya jika dia hidup ketimbang jika dia mati. Seingat saya Nabi Muhammad saja pernah menyuruh pasukannya mundur dari medan perang saat keadaannya genting meskipun pasukannya bersedia berperang sampai mati. Karena apa? Karena Nabi yakin dengan mundur mereka akan bisa menyusun strategi baru untuk mengalahkan lawan. Kalau beliau memerintahkan pasukannya untuk berperang sampai mati, itu hanya akan menambah kerugian bagi kubu Muslim.

Mencari surga dengan mengorbankan nyawa bagi saya sama dengan omong kosong. Jalan pintas yang konyol. Seharusnya kelayakan masuk surga dibayar dengan amal perbuatan kita di dunia, bukan dengan mati konyol. Seorang muslim layak masuk surga bila semasa hidupnya dia hidup sebagaimana layaknya seorang muslim hidup. Saya tidak tahu rasanya mati –tentu karena saya memang belum pernah mati, lebih-lebih saya juga tidak tahu rasanya mati karena bom, dan terutama lagi saya tidak tahu rasanya mati sebagai teroris. Saya tidak tahu rasanya mati menjemput ajal sendiri. Sakitkah? Apa para teroris itu sempat merasakan takut di detik-detik terakhir menjelang kematian, atau mereka justru penuh tekad?

Satu yang saya yakini, ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan di dunia. Ada begitu banyak hal yang bisa kita buat di kesempatan hidup kita. Membela agama adalah satu diantaranya, tapi banyak lagi hal lainnya. Seharian kemarin saya memikirkan kalimat si bapak narasumber tersebut. Betapa banyak dari kita, termasuk saya sendiri yang kadang begitu mudahnya menyerah saat menghadapi masalah, terlalu acuh untuk berbuat sesuatu, atau bahkan begitu mudahnya mencari jalan pintas dengan mengakhiri hidup sendiri saat tak kuat menghadapi masalah. Semua manusia pasti mati. Berani mati adalah sudah seharusnya. Tapi berani hidup, tampaknya belum semua orang bisa melakukannya. Siap menghadapi kematian adalah keniscayaan, siap menghadapi kehidupan adalah KEBERANIAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s