Twitter

Hoho, today’s the second day of Ramadhan. So how’s everybody doing? I’m doing great, so far. Anyway, just to inform, I’m on Twitter now, @CellyUtomo. I’ve created my first Twitter account a long time ago, actually, but I abandoned it. However, since my boyfriend finally decided to join the Twitter world in order to support his hypno-reiki thing, I decided to make another Twitter account for me. And what can I say, Twitter feels great!!
*Switching to Bahasa Indonesia*
Kalian yang akrab dengan Twitter tentu sudah tahu kalau di Twitter kita bebas memfollow seiapapun yang kita suka, dengan catatan si pemilik akun tidak memproteksi akunnya. Sejauh pengamatan saya, selebritas adalah golongan yang memiliki begitu banyak followers, bisa sampai ribuan jumlahnya. Kebanyakan dari mereka tidak memproteksi akunnya. Mungkin tujuannya mulia, untuk mendekatkan diri dengan para penggemar.
Sebelum saya aktif di Twitter (baca: punya akun sendiri), saya sudah rajin wara-wiri di akun Twitter artis-artis. Maksudnya, saya rajin mengintip akun Twitter beberapa selebritas Indonesia. Cuma iseng sih tujuannya, hanya ingin tahu apa yang sedang berlangsung di keseharian selebritas tersebut. Yah, daripada mantengin berita ga jelas di infotainment saya pikir lebih baik lihat Twitter mereka. Yang kita baca di situ kan lebih terpercaya, wong datangnya dari jempol pertama (jempol para artis tersebut, maksudnya).
Mungkin itulah juga alasan banyak orang memfollow akun-akun selebritas: untuk tahu kehidupan idolanya. Tapi sayangnya, sejauh pengamatan saya, kok ada juga beberapa orang yang malah menggunakan Twitter untuk “menyerang” beberapa artis yang mereka follow. Saya pernah menemukan ada seorang follower seorang penyanyi muda menulis begini di Twitter si penyanyi tersebut, “kok nama Twitter lo munaf sih?apa karena lo munafik?”, yang dijawab oleh si penyanyi dengan kalimat, “Munaf nama keluarga gw. Jaga jari-jari lo.” Menurut saya, taruhlan si follower itu hanya berniat bercanda,dan si penyanyi juga santai-santai saja menganggapinya, tapi bagi saya kalimatnya tetap tidak sopan. Bisa kan dia ganti kalimatnya, tanpa memasukkan kata “munafik”?
Beberapa bulan lalu saya pernah masuk ke Twitter “seorang artis yang terkenal lewat sinetronnya yang sampai sekarang belum tamat-tamat juga”. Waktu itu dia cerita habis tampil menyanyi (bersama kakaknya, tentu) di sebuah acara musik di salah satu tivi swasta. Dia cerita kalau di acara itu dia sang kakak dikerjain oleh host-host acara musik tersebut. Mereka “ditodong” menyanyikan salah satu lagu milik kelompok vokal ABBA. Karena dimintanya dadakan, alhasil dua cewek ini pun bernyanyi dengan kacaunya. Si seleb itupun dengan terang-terangan mengakui di Twitter kualitas menyanyinya yang ancur waktu menyanyikan lagu ABBA itu. Eh tiba-tiba ada seorang follower di Twitternya yang menulis begini kira-kira “kalo gak bisa nyanyi mending gak usah nyanyi dong. Suaranya ancur gitu!”
Si seleb ini hanya membalas. “iya maaf, tadi tau2 di panggung disuruh nyanyi.” Saya jadi berpikir, apa yang membuat si follower itu berhak menghina suara si seleb ini di depan orangnya langsung. Kalau memang tidak suka suaranya, ya sudah, tidak usah menonton acaranya. Toh sebelumnya si seleb ini sudah “minta maaf” atas kualitas menyanyinya. Contoh lain soal seorang follower yang menghina anak seorang seleb sebagai anak haram di Twitter milik si seleb tersebut. Si artis ini memang diketahui memiliki anak hasil hubungan di luar nikah dengan seorang artis juga. Mereka berdua pun sudah dengan jujur mengakui hal tersebut. Tapi apa coba yang ada di otak si follower tersebut sampai dia merasa berhak menyebut si anak mereka itus ebagai “anak haram”. Tidak ada seorang anak pun di dunia ini yang layak mendapat sebutan anak haram.
Dan baru beberapa hari lalu saya mengintip Twitter seorang selebrita perempuan yang sedang dibelit kasus video porno. Biarpun sedang dililit masalah pelik, ternyata si seleb ini masih beredar dimana-mana, termasuk di jagad maya bernama Twitter. Dia masih aktif menulis di Twitter, masih membalas kiriman-kiriman para followernya. Saya pikir ini hebat juga. Toh hidup tidak boleh berhenti karena kita sedang punya masalah kan. Suatu hari si artis ini menulis kalau dia tidak bisa membalas satu persatu chat dari teman-teman Twitternya karena sedang sibuk. Tiba-tiba ada yang menulis “sibuk bikin video ya?”. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan si artis ini saat membaca tulisan itu. Memang, dia membalasnya dengan kalimat santai, tapi siapa yang benar-benar tahu isi hati orang ya.
Saya jadi berpikir, untuk apa sih lo follow Twitter orang (baca: artis) kalau cuma buat menghina-hina orang yang lo follow. Twitter,s eperti halnya jejaring sosial lain kan seharusnya menjadi a place for having fun. Semoga lah di bulan Ramadhan ini kita semua bisa menahan mulut dan jari-jemari kita untuk tidak mengatakn hal yang bisa menyakiti perasaan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s