Kontemplasi Menjelang Ramadhan

Saya memberi judul postingan kali ini “Kontemplasi Menjelang Ramadhan” ya karena memang saya menulis postingan ini menjelang Ramadhan. Lebih tepatnya, 2 hari sebelum hari pertama di bulan Ramadhan. Sebenarnya ini lebih ke perenungan, mengingat-ingat apa saja sih yang sudah saya kerjakan atau lakukan sepanjang 11 bulan sebelum Ramadhan.

Sejak dulu, saya selalu suka bulan Ramadhan. Mungkin sebagian besar umat muslim juga begitu ya. Tapi bagi saya istimewanya bulan ini lebih lagi karena saya lahir di bulan Ramadhan 23 tahun lalu. Memang sih ga setiap bulan Ramadhan jatuhnya di bulan Mei, karena tiap tahun selalu maju kan hitungannya, tapi bagi saya bulan ini tetap bulan kelahiran saya. Orang tua saya merayakan Idul Fitri pertama sebagai suami-istri sekaligus sebagai orang tua karena sudah ada saya. Hehehe.

Saya ingat, akhir tahun lalu saya bikin resolusi tahun baru. Ada beberapa target yang mau saya capai sebelum akhir tahun ini. Ini daftar resolusi saya:

  1. Ga ngambekan lagi..

v  Hehe, untuk yang ini sih harusnya pacar saya yang mengevaluasi, karena dialah yang paling sering jadi korban ambekan saya. Tapi kalo pendapat subyektif saya sih bilang saya udah ga seambekan dulu. Dulu saya egois banget, seenaknya sendiri, tapi sekarang sudah lebih bisa mengontrol emosi, sudah lebih bisa memikirkan perasaan orang lain.

  1. Lulus kuliah

v  Insya Allah sebentar lagi kalo ga ada halangan, saya bener-bener mesti ninggalin predikat sebagai mahasiswi. Hehe..

  1. Dapet kerjaan

v  Wah, yang ini sih belum, soalnya si mama melarang keras saya kerja sebelum kuliah selesai. Tapi harapan saya sebelum akhir tahun saya sudah dapat satu kerjaan.

  1. Lebih dekat dengan Tuhan

v  Dari semua resolusi saya, ini yang pencapaiannya paling membahagiakan saya. Alhamdulillah, saya udah balik jadi paling tidak ½ dari diri saya yang dulu, yang religious dan rajin ngobrol dengan Tuhan. Ini sudah jadi keinginan saya sejak Ramadhan tahun lalu sih.

Eniwei, sebenarnya keinginan-keinginan di atas itu sudah jadi keinginan saya sejak Ramadhan dan Lebaran tahun lalu. Tahun lalu saya sudah lulus kuliah di UI, otomatis saya jadi punya lebih banyak waktu di rumah, lebih banyak waktu untuk bicara dengan diri sendiri, berpikir, merenung. Saya jadi sering bertanya pada diri sendiri apa yang saya maui dalam hidup. Bertanyanya ke nurani lho, bukan cuma ke otak saya. Saya rasa itu membuat saya jadi lebih manusiawi, karena sebelum ini saya jarang bertanya ke hati saya saya maunya apa. Lebih banyaknya berpikir “Oh ini bagus, oh itu ga bagus, berarti ini yang dikerjain.” Lebih banyak pake rasio lah. Ini juga yang pacar saya mau, agar saya melakukan apa yang membahagiakan saya, bukan cuma apa yang saya anggap benar atau baik.

Di bagian lain dari kehidupan saya, saya rasa sejak Ramadhan tahun lalu sampai Ramadhan tahun ini menjelang, kehidupan saya adem-ayem saya. Kehidupan personal bagus, kehidupan yang saya jalani bersama pacar pun makin bagus. Kami lebih jarang berantem dan lebih banyak senang-senangnya. Mungkin karena intensitas pertemuan pun berkurang dibanding waktu masih kuliah, sekarang rasanya rugu sekali kalau mau berantem-berantem. Kalau ketemu ya isinya senang-senang dan ketawa-ketawa aja. Bahkan rasanya komunikasi juga makin berkualitas karena saat ketemu ada lebih banyak hal yang bisa diceritakan. Dulu waktu masih ketemu tiap hari kan kami saling tahu apa saja yang dikerjakan satu sama lain. Dan sekarang saya dan pacar banyak ngomongin masa depan juga. Lebih serius lah. Banyak yang dikompromiin. Dan saya hepi🙂..

Saya jadi agak kehilangan waktu mengobrol dengan orang lain karena saya lebih banyak di rumah. Jadi merasa kehilangan sahabat-sahabat saya. Tapi ga terlalu masalah, toh masih bisa ditangani lewat Facebook. Saya masih bisa, paling tidak, update kabar mereka. Hehe.

Saya punya tivi sendiri di kamar, otomatis tiap hari, kapan pun saya bisa nonton acara tivi apapun yang saya mau. Saya juga punya koneksi internet sendiri di rumah. Dua hal ini bermanfaat sekali untuk menyambungkan saya dengan dunia. Saya ga pernah ketinggalan berita deh. Dan dua hal ini juga bermanfaat sekali untuk mengalihkan kebosanan saya di rumah.

Bicara tentang rumah, ga banyak yang berubah di rumah saya. Tapi rasanya orang-orang jadi lebih sibuk. Adik-adik saya dua-duanya jadi anggota Marching Band di sekolah si adik yang paling kecil (yang dulunya juga sekolah kakak-kakaknya). Mereka latihan 2-3 kali seminggu, dan biasanya sampai malam pula. Jadilah mereka jarang di rumah. Di rumah saya lebih sering berdua mama. Alhasil saya dan mama jadi lebih dekat. Dari dulu sudah dekat sih, tapi sekarang lebih dekat. Hal apapun diceritain dan diobrolin berdua. Kalau dengan adeik-adik saya, yah, jujur memang jadi lebih jauh ya. Mereka kan punya kesamaan hobi, minat dan kegiatan, jadi yang diobrolin pun nyambung banget. Sedangkan saya ga mudeng sama obrolan mereka. Apalagi hubungan saya dengan adik pertama pun belum membaik sejak musuhan tahun lalu. Harapan saya sih Ramadhan ini hubungan keluarga bisa lebih dekat dan lebih baik lagi. Amin.

Akhirnya, saya berharap Ramadhan tahun ini hubungan saya dengan diri saya sendiri, dengan keluarga, dengan pacar, dengan teman-teman, dan dengan Tuhan bisa jauh lebih baik dari tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s