Where Will I Be Ten Years From Now?

Call me a dreamer, but I can really see myself sitting in the classroom in grad school, studying so hard that I keep wondering what the hell I put myself into, but at the same time enjoying its every bit of pain because I’ve been loving going to school since I can remember..

Life will be unbearably difficult sometimes since I struggle as hell to balance my life as being a wife and a mother of one daughter on one side and a career woman on the other side.. My daughter, who starts her elementary school this year, excels in academic, enjoys eating and snacking like her parents, and plays piano occasionally :) .. She’s unbelievably stubborn and adventurous at the same time..

It’s not perfect, my life, but I am as happy as I can be.. Marriage life is not a happily-ever-after fairy tale.. My husband and I have a fight or two every once in while, but I get the best man that every girl can wish for as a husband.. He is pretty annoying and sloppy sometimes, but is considerably awesome, undeniably smart, and undoubtedly reliable most the time.. And I love him in very, very big way of loving..

Money is strict because I save so hard to assure that my daughter will get the best education that her parents can provide her.. I live in “a concrete jungle where dreams are made of” Jakarta, in a pretty small home (because the price of house are hell expensive).. Or maybe I live in other cities, say Bandung or Jogja..

There are times when I cry because I feel like I have too many things to be taken care of, but I will realize that the feeling actually comes from my unstoppable desire to bite off more than I can chew.. Quoting Meredith Grey, “Why do I keep hitting my head with a hammer? Because it feels so good when I stop”.

One things for sure, I am grateful for every single thing I have at that moment.. I’m fully aware that life is series of choices.. I won’t stop dreaming, I won’t stop making targets, and I won’t stop busting my ass so hard to make it happen :)

2010.. How u’re being so kind to me ;)..

Berhubung ini sudah hampir akhir tahun, pas nih rasanya kalau saya bikin rekap apa saja yang sudah saya lalui di tahun 2010 ini. Bukannya mau sok-sokan bikin resolusi, ikut-ikutan orang sih, yah cuma buat bahan refleksi aja gitu supaya tahun depan lebih baik dari tahun ini. Hehe.

Yak, di tahun 2010 ini tampaknya Tuhan sayang sekali pada saya, soalnya saya banyak diberi cobaan. Hehe. Saya mengawali tahun ini dengan suasana hati riang gembira. Maklum, 31 Desember 2009 itu saya liburan bareng pacar, jadi tanggal 1nya masih terbawa riang dan hepi. Hehe. Januari-Februari relatif tanpa gangguan. Malah dalam dua bulan ini dua kali saya dan pacar jalan-jalan alias liburan. Akhir Januari jalan-jalannya ke BonBin Ragunan, akhir Februari jalan-jalan ke Kota Tua. Maret saya mulai buat skripsi, yah agak dicoba deh saya. Hehe. Maret pacar saya ulang tahun. Senang rasanya bisa membelikan dia hadiah. Apalagi saya sengaja meluangkan uang jajan saya yang tak seberapa untuk membelikan dia sepatu.. hihi.. Sayangnya di Maret pula si Gntong pacar saya itu gagal mendapatkan kesempatan bekerja di salah satu perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia. Gak apa, mungkin belum rezekinya.

Sepanjang April kayaknya otak saya sedang sengkleh. Saya lebih sering bête daripada ga bête. Ga tau deh kenapa tuh. Masuk Mei, suasana hati membaik. Saya selalu suka bulan Mei, karena ini bulan lahir saya. Waktu saya ultah, pacar kasih hadiah sampe borongan gitu dua kado. Hehe. Sepanjang Mei ini saya riang terus. Juni, Juli kayaknya saya dan pacar sering berantem. Karena masalah sepele sih, cuma karena pacar sibuk dengan kegiatan mengajarnya, saya jadi merasa tersisihkan. Agustus masuk bulan puasa. Wah, adem deh hati. Bulan puasa 2 tahun terakhir ini nikmat sekali buat saya. Ga tau kenapa. Tahun lalu mungkin karena excited mau wisuda di UI, jadi bawaannya senang trus. Tahun ini mungkin karena saya di rumah trus, jadi lebih banyak ibadahnya dari tahun-tahun sebelumnya. Ibadahnya lebih khusyuk. Puasa saya juga hanya sedikit yang bolong. Yes! Di Agustus ini juga saya dan pacar resmi 4 tahun bareng-bareng. Hmm, sudah lebih dewasa hubungannya :) ..

September pacar dapat pekerjaan baru di bimbel lain. Bukan hanya mengajar, dia jadi manajer cabangnya. Alhamdulillah, good for him, I said. Tapi ternyata pekerjaan baru dia ini bawa konsekuensi juga karena dia jadi jauh lebih sibuk dibanding dulu waktu cuma ngajar. Alhasil saya jadi sering cari gara-gara minta diperhatiin. Duh, pacar macam apa saya. Oktober-November itu pokoknya banyak cobaan deh unuk hubungan saya dan pacar. Untung selalu diberi jalan yang baik oleh Tuhan, akhirnya damai lagi. Sejak pertengahan tahun ini saya juga mulai galau soal masa depan. Mikirin sudah mau lulus kuliah, sudah harus mulai mikirin nanti mau kerja apa. Apalagi tahun ini saya jarang dikasih uang sama ortu. Kering deh kantong, jadi sering pinjam uang sm pacar. Hiks.

Akhir Oktober, kabar baik menghampiri saya. Saya dapat tawaran mengajar bahasa Inggris di satu SMK di Depok. Wah, girang sekali saya. Karena sekolahnya bernuansa Islami, saya harus pakai jilbab saat mengajar. Saya udah semangat aja tuh. Semua koleksi kerudung mama saya keluarkan dari kardus. Saya belajar gimana pake kerudung yang kelihatan bagus dan cantik. Siap tempurlah pokoknya. Tapi ternyata si sekolah rese itu ga menghubungi saya lagi untuk menginformasikan kapan saya bisa mulai mengajar. Saya sms wakepsek bag.kesiswaan, dia tidak pernah membalas. Saya sms dan telp guru yang pertama menawari saya mengajar di sana, eh katanya nomornya error. Duh, gimana sih ini. Mempermainkan orang deh. Padahal saya sudah dua kali wawancara di sana.

Awalnya sih kesal juga sama sekolah sialan itu, tapi setelah saya pikir-pikir, ada hikmahnya juga saya diperkenalkan dengan sekolah itu. Saya jadi belajar pake jilbab. Sekarang saya sedang memantapkan hati untuk pake jilbab beneran. Mungkin kalau tidak dapat kesempatan “kerja” dis ekolah itu sampai sekarang saya belum terpikir untuk pakai jilbab. Hehe. Karena fokus utama saya tahun ini adalah mencari pekerjaan, beberapa bulan terakhir ini pun saya rajin mengirim lamaran kerja kesana-kemari. Sempat marah juga sih sama pacar karena ga bolehin saya mengajar di bimbel tempat dia kerja. Tapi itu akhirnya jadi cambuk buat saya. Saya jadi tertantang untuk buktiin kalau tanpa bantuan siapa-siapa juga saya bisa dapat kerja.

Eh Desember ini ternyata saya malah dapat pekerjaan tetap. Ya, pekerjaan tetap saya yang pertama. Saya ga bilang ke siapa-siapa kalo saya melamar kerja di tempat ini. Ga ke orang tua, ga juga ke pacar. Makanya mereka kaget tahu-tahu saya sudah dapat kerja di tempat ini. Hehe. Bersyukurnya lagi, tempat kerjanya dekat sekali dari rumah, pekerjaannya menantang, rekan-rekan kerjanya baik-baik. Saya ga perlu waktu lama untuk klop dengan pekerjaan baru ini. Ga henti-hentinya saya bersyukur sama Tuhan. Dan di bulan terakhir di 2010 ini hubungan saya dengan pacar juga baiiiiikkk bangeeettt.. Semoga setahun ke depan kehidupan saya sebahagia sekarang.

Saya percaya Tuhan selalu mendengar doa umatNya. Mungkin masih banyak keinginan saya yang belum dikabulkan Tuhan, tapi saya percaya rencana Tuhan selalu indah pada waktuNya. Saya ga akan berhenti berdoa, memohonkan permintaan-permintaan dan keinginan-keinginan saya pada Tuhan, dan saya juga ga akan berhenti menunjukkan pada Tuhan kalau saya layak mendapat berkahNya.

Antara Saya dan Kacamata

Semua anggota keluarga saya berkacamata, saya berkacamata, pacar saya berkacamata. Jadi tampaknya hampir semua orang yang dekat dengan saya itu berkacamata. Saya sendiri mulai pakai kacamata saat SMA. Sebelumnya saya sempat lama membandel tidak mau pakai kacamata meskipun saya sudah tahu penglihatan saya sudah tidak beres sejak kecil, terutama disebabkan oleh gaya hidup dan kebiasaan saya yang tidak eye-friendly. Hehe. Apalagi kalau bukan kebiasaan-kebiasaan seperti membaca sambil tiduran, membaca berjam-jam, membaca dengan cahaya minim.

Apa daya, akibat kebiasaan-kebiasaan itu mata saya jadi ga normal. Sebenarnya mata saya ga parah-parah banget sih. Setidaknya mata ini masih bisa diandalkan untuk melihat dari jarak jauh atau melihat obyek benda atau tulisan berukuran kecil. Tidak seperti pacar saya yang sudah setengah picek. Hihihi. Tapi akhir-akhir ini tampaknya mata ini sedikit keteteran mengikuti cara hidup saya yang menghabiskan sebagian besar waktu saya di depan laptop. Mata saya jadi sering capek, saya juga jadi sering pusing. Apalagi layar laptop saya memang kinclong sekali cahayanya. Karena saya sering bandel tidak pakai kacamata saat sedang mantengin laptop –lebih sering bandel daripada tidak bandelnya malah, mata saya jadi gampang capek.

Saya jadi menyadari, mata saya mungkin sudah terlalu sering saya bombardir. Jadi saya memutuskan untuk mengistirahatkan mata saya. Bukan, bukan berarti saya jadi tidak mau menggunakan mata saya. Itu sih artinya saya membutakan mata saya sendiri dong. Hehe. Tapi saya sudah bertekad tidak mau laptopan tanpa memakai kacamata lagi, tidak mau membaca terlalu lama tanpa pakai kacamata. Sekarang sih dibetah-betahin aja deh pakai kacamata biarpun sering risih.

Maaf ya mata, aku sudah sering membuatmu menderita. Damai ya kita..

Punya Anak Cukup Satu

Kalau ada yang bertanya pada saya berapa anak yang saya harapkan untuk saya miliki setelah saya menikah nanti, tanpa ragu saya akan jawab: satu saja. Weks, kok hanya satu? Biasanya kan orang-orang lain inginnya punya minimal sepasang anak, tidak jarang pula yang ingin punya banyak anak. Sori, saya punya alasan yang menurut saya sangat masuk akal.

Pertama, saya tidak ingin lagi memenuhi bumi ini dengan manusia-manusia baru. Bumi kita ini sudah penuh manusia, sudah kegendutan, kelebihan beban. Warga bumi sudah nyaris kehabisan tanah untuk ditinggali. Kita bahkan sudah berebut oksigen untuk bernapas lho. Bahkan sudah banyak yang memprediksi akan lebih banyak lagiledakan penduduk bumi di masa mendatang. Weks, sorry to say ya untuk orang-orang yang ingin punya anak banyak, menurut saya kalian egois. Memang benar bereproduksi adalah hak setiap manusia, dan benar juga bahwa bumi ada untuk kita diami, tapi egois sekali kalau kalian nyumpek-nyumpekin bumi dengan keturunan-keturunan kalian di saat bumi kita ini sudah sekarat dan kelebihan beban.

Alasan kedua, punya satu anak akan memberi jaminan lebih untuk kehidupan yang lebih baik bagi si anak. Dengan punya hanya satu anak, semua yang dimiliki orang tua akan ditujukan ke anak tersebut, baik itu penghasilan maupun perhatian. Orang tua tidak perlu berbagi pengeluaran antara anak-anaknya, tidak perlu juga berbagi perhatian. Orang tua bisa lebih fokus membesarkan anak. Bahkan orang tua juga bisa menabung lebih banyak bagi masa depan si anak kalau mereka hanya punya satu anak untuk dibiayai. Semua yang diberi ke anak bisa yang nomor satu karena uangnya tidak perlu dibagi-bagi dengan saudaranya. Lagipula dengan hanya punya satu anak akan membantu pemerintah member kesejahteraan lebih bagi warganya karena warga yang harus diurus lebih sedikit jumlahnya.

Ada yang bilang anak tunggal biasanya tumbuh jadi anak egois. Dia akan terbiasa jadi prioritas, semua maunya diberi dan dituruti. Dia juga akan tidak akan terbiasa berbagi karena semua yang ada di rumah otomatis jadi milik dia seorang. Menurut saya tidak seperti itu juga. Itu tantangan bagi si orang tua nantinya, apakah dia akan sukses mendidik anaknya jadi anak yang tidak manja dan egois. Saya malah justru yakin dengan punya satu anak waktu yang dimiliki oleh orang tua untuk mendidik anaknya justru akan lebih banyak karena beban pikirannya hanya pada satu anak.
Jadi, daripada memikirkan enaknya punya anak banyak, ayo deh mulai pikrkan punya anak satu saja. Sudah bukan masanya lho bilang “banyak anak banyak rezeki.” Yang benar itu “banyak anak banyak pengeluaran.” Yuk, berikan kehidupan yang lebih berkualitas bagi anak-anak kita nanti.

I’m Excited…

Kemarin saya ke FIB lagi..Setelah udah berbulan-bulan saya gak menginjakkan kaki di kampus tercinta, rumah kedua saya selama 4 tahun.. Yang baru 1 tahun saya tinggalkan, tapi kok rasanya udah banyak sekali yang berubah..Begitu sama tapi juga begitu beda di saat yang bersamaan..

Ya, kemarin saya ke FIB.. Ada rapat, briefing untuk persiapan workshop penerjemahan LBI Sabtu besok..Saya diajak Dika, temen kuliah saya di prodi Inggris dulu untuk jadi LO di acara itu..Dibayar sih, jadi saya mau aja..Hehehe..Tapi kemarin waktu nyampe FIB saya baru sadar, bukan bayarannya yang bikin saya mau nerima kerjaan ini..Bukan pula karena kerjaannya ringan, cuma bantu dan mendampingi pembicara..Tapi karena saya kangen acara2 kayak gini di kampus..

4 tahun di kampus, acara2 kayak gini jadi kayak bagian rutin di masa kuliah saya..Seminar2, diskusi2, workshop2, dan acara2 kampus lainnya bener2 vitamin yang bagus buat mahasiswa..Dan di kampus saya semua jurusan punya acara tahunannya masing2..Bikin kangen kalo inget masa2 itu..Betapa ribet dan capeknya nyiapin acara waktu kita jafi panita..Tapi begitu acaranya lancar dan sukses, all the hardworks paid off ;) ..

Dan serius, saya jadi gak sabar nunggu acaranya besok..Saya kangen kampus, saya kangen FIB, saya kangen UI..