Antara Saya dan Kacamata

Semua anggota keluarga saya berkacamata, saya berkacamata, pacar saya berkacamata. Jadi tampaknya hampir semua orang yang dekat dengan saya itu berkacamata. Saya sendiri mulai pakai kacamata saat SMA. Sebelumnya saya sempat lama membandel tidak mau pakai kacamata meskipun saya sudah tahu penglihatan saya sudah tidak beres sejak kecil, terutama disebabkan oleh gaya hidup dan kebiasaan saya yang tidak eye-friendly. Hehe. Apalagi kalau bukan kebiasaan-kebiasaan seperti membaca sambil tiduran, membaca berjam-jam, membaca dengan cahaya minim.

Apa daya, akibat kebiasaan-kebiasaan itu mata saya jadi ga normal. Sebenarnya mata saya ga parah-parah banget sih. Setidaknya mata ini masih bisa diandalkan untuk melihat dari jarak jauh atau melihat obyek benda atau tulisan berukuran kecil. Tidak seperti pacar saya yang sudah setengah picek. Hihihi. Tapi akhir-akhir ini tampaknya mata ini sedikit keteteran mengikuti cara hidup saya yang menghabiskan sebagian besar waktu saya di depan laptop. Mata saya jadi sering capek, saya juga jadi sering pusing. Apalagi layar laptop saya memang kinclong sekali cahayanya. Karena saya sering bandel tidak pakai kacamata saat sedang mantengin laptop –lebih sering bandel daripada tidak bandelnya malah, mata saya jadi gampang capek.

Saya jadi menyadari, mata saya mungkin sudah terlalu sering saya bombardir. Jadi saya memutuskan untuk mengistirahatkan mata saya. Bukan, bukan berarti saya jadi tidak mau menggunakan mata saya. Itu sih artinya saya membutakan mata saya sendiri dong. Hehe. Tapi saya sudah bertekad tidak mau laptopan tanpa memakai kacamata lagi, tidak mau membaca terlalu lama tanpa pakai kacamata. Sekarang sih dibetah-betahin aja deh pakai kacamata biarpun sering risih.

Maaf ya mata, aku sudah sering membuatmu menderita. Damai ya kita..

Punya Anak Cukup Satu

Kalau ada yang bertanya pada saya berapa anak yang saya harapkan untuk saya miliki setelah saya menikah nanti, tanpa ragu saya akan jawab: satu saja. Weks, kok hanya satu? Biasanya kan orang-orang lain inginnya punya minimal sepasang anak, tidak jarang pula yang ingin punya banyak anak. Sori, saya punya alasan yang menurut saya sangat masuk akal.

Pertama, saya tidak ingin lagi memenuhi bumi ini dengan manusia-manusia baru. Bumi kita ini sudah penuh manusia, sudah kegendutan, kelebihan beban. Warga bumi sudah nyaris kehabisan tanah untuk ditinggali. Kita bahkan sudah berebut oksigen untuk bernapas lho. Bahkan sudah banyak yang memprediksi akan lebih banyak lagiledakan penduduk bumi di masa mendatang. Weks, sorry to say ya untuk orang-orang yang ingin punya anak banyak, menurut saya kalian egois. Memang benar bereproduksi adalah hak setiap manusia, dan benar juga bahwa bumi ada untuk kita diami, tapi egois sekali kalau kalian nyumpek-nyumpekin bumi dengan keturunan-keturunan kalian di saat bumi kita ini sudah sekarat dan kelebihan beban.

Alasan kedua, punya satu anak akan memberi jaminan lebih untuk kehidupan yang lebih baik bagi si anak. Dengan punya hanya satu anak, semua yang dimiliki orang tua akan ditujukan ke anak tersebut, baik itu penghasilan maupun perhatian. Orang tua tidak perlu berbagi pengeluaran antara anak-anaknya, tidak perlu juga berbagi perhatian. Orang tua bisa lebih fokus membesarkan anak. Bahkan orang tua juga bisa menabung lebih banyak bagi masa depan si anak kalau mereka hanya punya satu anak untuk dibiayai. Semua yang diberi ke anak bisa yang nomor satu karena uangnya tidak perlu dibagi-bagi dengan saudaranya. Lagipula dengan hanya punya satu anak akan membantu pemerintah member kesejahteraan lebih bagi warganya karena warga yang harus diurus lebih sedikit jumlahnya.

Ada yang bilang anak tunggal biasanya tumbuh jadi anak egois. Dia akan terbiasa jadi prioritas, semua maunya diberi dan dituruti. Dia juga akan tidak akan terbiasa berbagi karena semua yang ada di rumah otomatis jadi milik dia seorang. Menurut saya tidak seperti itu juga. Itu tantangan bagi si orang tua nantinya, apakah dia akan sukses mendidik anaknya jadi anak yang tidak manja dan egois. Saya malah justru yakin dengan punya satu anak waktu yang dimiliki oleh orang tua untuk mendidik anaknya justru akan lebih banyak karena beban pikirannya hanya pada satu anak.
Jadi, daripada memikirkan enaknya punya anak banyak, ayo deh mulai pikrkan punya anak satu saja. Sudah bukan masanya lho bilang “banyak anak banyak rezeki.” Yang benar itu “banyak anak banyak pengeluaran.” Yuk, berikan kehidupan yang lebih berkualitas bagi anak-anak kita nanti.

Growing Up In Style ;p..

Saat tadi sedang berpikir akan menulis apa lagi untuk blog, tiba-tiba terpikir untuk menulis soal orang tua, terutama mama. Lucunya, ide itu terlintas saat saya sedang jebyar-jebyur di kamar mandi. Hehe. Karena cerita tentang mama pasti panjang bangeeeettt, jadi saya putuskan untuk menuliskan sesuatu yang tadi saya pikirkan di kamar mandi, tentang bagaimana saya dibesarkan dalam “gaya”. Istilah kerennya, I was raised in style. Hehe..

Mama saya adalah salah satu orang paling stylish dan fashionable yang pernah saya kenal dalam hidup saya. Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat mama sibuk pilih-pilah pakaian saat ingin pergi ke suatu tempat. Kadang saya berpikir kebiasaannya memilih dan memilah pakaian itu sangat merepotkan dan buang-buang waktu. Mama saya bisa lho sibuk memilih pakaian apa yang akan dia pakai ke suatu acara sejak dia menerima undangan acara tersebut. Misalnya nih dia diundang ke acara pernikahan, dia sudah akan sibuk memikirkan pakaian yang akan dia kenakan, walaupun acaranya tersebut baru akan diselenggarakan bulan depan.

Saya selalu berpikir, kenapa sih tidak pas hari H ambil saja pakaian apapun di lemari yang sedang mood dia pakai. Wah, kalau saya bilang begitu ke mama, dia bisa nya-nyap banget. Buat dia, penampilan itu penting karena itulah hal pertama yang akan dilihat orang lain dari diri kita. Orang boleh tidak kenal “dalamnya” diri kita, tapi penting untuk orang tersebut melihat kita berpenampilan menarik, begitu prinsip mama. Dulu saya sih tidak setuju, terkesan basa-basi menurut saya. Tapi beranjak dewasa, saya justru mengamini prinsip mama itu.

Koleksi pakaian, sepatu, dan mama seabrek-abrek. Beragam merek dan warna ada di lemari koleksinya. Mama saya tidak suka berdandan, tapi itu tertupi dengan apparelnya yang selalu terlihat bagus (paling tidak menurut orang-orang yang kenal mama). Sejak saya kecil mamalah yang memilihkan pakaian seperti apa yang sebaiknya saya beli, pakaian apa yang cocok saya pakai, dsb. Bukannya saya tidak mandiri sih, tapi memang pilihannya mama selalu bagus di mata saya. Hehe. Ada satu prinsip mama yang juga selalu saya ingat. Mama tidak suka mengikuti tren. Buat mama apa yang sedang tren belum tentu cocok dia pakai. Itu yang selalu mama ajarkan ke saya. Percuma mengikuti tren kalau tidak cocok untuk kita atau kita tidak nyaman memakainya.

Semasa kecil, tidak pernah sekalipun saya memakai sesuatu yang sedang tren dan dipakai hampir semua teman saya di sekolah. Saya ingat pernah waktu saya SD ada tren anting Mickey Mouse. Ampun, hampir semua teman cewek saya pakai anting itu. Saya pun ikutan merengek ke mama untuk membelikan anting yang sama. Jawab mama, “Ngapain sih pake anting norak kayak gitu. Kalau semua orang pake barang yang sama, berarti barang itu pasaran.” Hiks, pelit banget si mama. Tapi ternyata beberapa hari kemudian mama membelikan saya anting baru. Bukan yang bentuk kepala Mickey Mouse. Eng ing eng, ternyata antingnya itu berbentuk segitiga, ada embosan tanda tanya, dan mereknya Guess. Hah, kaget saya, saya pikir anting macam apaan sih itu. Saya sedikit tidak ikhlas memakainya. Bertahun kemudian baru saya tahu Guess itu merek mahal, dan harga anting Guess saya itu lebih mahal dari anting-anting Mickey Mouse teman-teman saya.

Cerita serupa juga terjadi saat SD tahun 90an dilanda demam sepatu All Star hitam-putih, dan sepatu yang bagian belakangnya ada lampu yang bisa menyala. Mama saya melarang keras saya meminta dibelikan sepatu-sepatu semacam itu. Cuma anak kampungan yang pakai sepatu seperti, kata mama saya. Hehe. Masa saya SD itu saya sudah pakai sepatu-sepatu merek Nike, Adidas, atau Fila yang pastinya harganya berkali lipat lebih mahal dari sepatu-sepatu teman saya yang sedang tren saat itu. Menurut mama, untuk apa punya barang ngetren dan murah kalau cuma untuk dipakai saat sedang trend dan kualitasnya semurah harganya. Ini yang selalu saya ingat sampai sekarang. Ada alasan kenapa merek-merek mahal itu harganya mahal dan terkenal sampai bertahun-tahun: kualitas. Maka saya pun selalu tanamkan ke diri saya setiap ingin belanja, lebih baik menabung lebih lama supaya bisa membeli barang yang lebih lama dengan kualitas lebih baik, seperti yang selalu dilakukan mama saya.

Sebenarnya butuh waktu lama untuk saya “meneladani” sikap mama. Perlu waktu lama bagi saya memutuskan gaya berpakain seperti apa yang cocok untuk saya. Dulu saya gendut dan tomboy sekali, jadi saya selalu pakai kaus gombrong dan celana jins kemana-mana. Boro-boro deh pakai aksesoris. Tapi sejak masuk kuliah dan jadi langsing, wuuupps, berubah sekali saya. Dari 3 anak mama, mungkin cuma saya yang mengikuti cara berpakaiannya. Kedua adik saya cuek sekali gayanya. Hehe. Tapi saya bersyukur dulu saya sempat malas memperhatikan penampilan, bersyukur tidak langsung menuruti kebiasaan mama menserasikan penampilan. Karena dengan begitu saya jadi belajar menemukan jati diri saya sendiri tanpa mama harus memaksa saya.

Menstruation Attacks

Dua hari ini saya kedatangan tamu bulanan, alias menstruasi. Haduh, benar-benar mengganggu sekali menstruasi ini. Terlebih karena setelah Lebaran porsi makan saya lebih banyak, jadi menstruasi saya pun keluar lebih banyak. Suasana hati saya pun jeleks ekali. Saya gampang marah-marah, malas ngapa-ngapain, malas ngomong sama siapa-siapa. Iiiih, bête terus deh pokoknya. Belum lagi sakit perut bulanan yang tidak bisa ditolak ini.

Kalau sudah begini, siapa lagi yang jadi “bantalan” kebetean saya kalau bukan si pacar. Untung pacar saya super pengertian. Kalo gak mungkin berantem terus kami tiap hari. Huhu, maafin saya ya, pacar. Doakan supaya awan gelap di hati saya ini cepat pergi yaa..

Kemana Perginya Kebebasan Beragama

Kemarin saya menonton berita di tivi, masih terkait dengan kasus penusukan jemaat gereja HKBP Bekasi yang beberapa hari ini ramai diberitakan. Di berita itu disebutkan bahwa ternyata bukan cuma di Bekasi ada pembangunan gereja HKBP yang dipersulit, di Depok, Jawa Barat pun ada.. Mirisnya lagi pembangunan gereja itu sudah 10 tahun terakhir ini terbengkalai.. Warga sekitar lokasi pembangunan gereja menentang keberadaan gereja tersebut dengan alasan mayoritas warga di daerah tersebut adalah muslim. Astaga, konyol deh alasannya.. Terus kenapa memangnya kalau mayoritas warga beragama Islam.. Apa itu berarti tidak boleh ada celah sedikit pun bagi pemeluk agama lain untuk beribadah di sana ?

Yang lebih membuat geleng-geleng kepala lagi, pembangunan gereja ini juga terhalang IMB.. Sebenarnya pihak HKBP sudah mengantungi IMB, tapi setahun setelah izin terbit dan pembangunan dimulai IMB itu dicabut lagi oleh walikota Depok saat itu –tidak disebutkan namanya dalam tayangan berita itu- dengan alasan adanya tentangan dari warga di sekitar lokasi pembangunan gereja.. Saya mungkin tidak paham prosedur penerbitan dan pencabutan IMB, tapi saya meyakini selembar IMB rumah ibadah selayaknya tidak dicabut dengan semena-mena karena ada sekelompok orang yang menentang dengan alasan yang tak masuk akal. Pihak HKBP sendiri setelah keputusan si walikota tersebut sudah mengajukan gugatan ke pengadilan, dan menang, yang berarti mereka secara sah berhak melanjutkan pembangunan gereja. Sayangnya, pembangunan gereja selalu diganggu pihak-pihak yang tidak suka.

Menonton berita tersebut, ditambah dengan sudah beberapa hari ini dibombardir berita tentang penusukan jemaat gereja HKBP di Bekasi, rasanya kok saya jadi berpikir makin kacau saja negara ini.. Memang sih ada yang bilang penusukan itu kriminal murni, alias tidak ada hubungannya dengan masalah agama.. Yah, bisa benar bisa tidak sih, tapi saya pribadi kok kurang yakin itu tidak ada hubungannya dengan masalah agama.. Kemana perginya ya kebebasan beragama di negara kita yang (katanya) plural dan multikultural ini?

Membicarakan agama memang bisa jadi hal sensitif di beberapa konteks, dan salah satunya mungkin di masalah penusukan jemaat gereja ini.. Katanya kan awal mula kenapa gereja ini dipemasalahkan adalah karena pembangunan gerejanya yang belum punya IMB.. Ada yang meyakini pula pemberian IMB untuk bangunan gereja ini memang sengaja dipersulit karena warga-warga sekitar, yang mayoritas muslim, menentang pembangunan gereja di wilayah mereka.. Saya kok baru tahu ya kalau sekarang kebebasan beragama dan beribadah dibatasi oleh surat bernama ”IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN”.. Hebat sekali ya surat itu.. Sudah berapa lama ya saya tidak membaca UUD ’45, sampai tidak sadar kalau Pasal 29 Ayat 2 UUD’45 sudah berubah isinya jadi ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu asalkan kegiatan ibadatnya dilakukan di tempat yang sudah memiliki IMB”..

Apa orang-orang yang menentang pendirian gereja di wilayah mereka itu inginnya sekarang ada pengkotak-kotakan wilayah berdasarkan agama ya? Jadi kalau di suatu daerah mayoritas warganya beragama A, yang beragama B harus enyah dari situ, tidak boleh beribadah di sana.. Begitu juga sebaliknya, di daerah yang mayoritas warganya beragama C, warga beragama D tidak boleh beribadah di sana.. Kalau kelompok penentang ini ikut berkoar-koar mencaci warga AS yang menentang pembangunan masjid di sekitar bekas lokasi WTC, kenapa mereka kok melakukan hal serupa pada saudara yang sebangsa dan senegara dengannya di negaranya sendiri..

Ayolah, negara ini sudah 65 tahun merdeka, masa pikiran penduduknya masih belum merdeka juga.. Negara ini milik semua warga negara, tidak peduli apa sukunya, agamanya, warna kulitnya.. Belajarlah dewasa, belajar menyadari bahwa negara ini bukan milik kaum mayoritas saja.. Belajar menerima bahwa semua warga negara memiliki hak yang sama untuk beribadah, tidak peduli dimana tempatnya dan apa agamanya..

Ngeblog

Makin lama saya makin tergila-gila dengan Twitter.. Tiap hari buka Twitter terus.. Ngobrol sama teman, sama pacar, gossip-gosip, cekikikan.. For me it’s fun.. Selain itu saya sudah agak malas main FB.. BUkan, bukan karena saya sudah kena demam Twitter.. Saya bukan tipe orang yang mudah berpaling ke sesuatu yang sedang tren untuk kemudian berpaling dari yang lama.. Tapi karena FB jadi makin sumpek saja belakangan ini.. Bagi saya Twitter menyenangkan karena lebih simpel..

Ngomong-ngomong soal Twitter, saya dengar banyak blogger yang jadi malas memperbarui isi blognya karena terlalu asyik Twitteran.. Wah, sayang juga yaa.. Padahal menurut saya blog adalah media yang lebih pas untuk bercerita karena areanya lebih lapang.. Tapi mungkin para blogger lebih asyik “nguprek” Twitter justru karena kesimpelannya itu ya..

Saya pribadi inginnya terus ngeblog.. Karena saya senang menulis di blog.. Buat saya menulis di blog seperti menulis di diari, dan saya suka menulis di diari.. Bodo amat deh kalau tidak ada yang baca blog saya, malah senang sayanya, jadi tidak ada yang komen.. Kalau mau komen cukup komentari status Facebook atau Twitter lah.. Hehehe.. Bagi saya menulis apa yang saya alami, apa yang saya kerjakan, apa yang saya temui, apa yang saya rasakan itu penting supaya suatu hari saya bisa melihat lagi di masa lalu saya sudah pernah mengalami apa saja.. Siapa tahu nanti tua saya kena Alzheimer *knocking wood* yang membuat saya kehilangan semua memori tentang hidup saya, kan saya jadi punya media untuk mengingatkan saya lagi pada kehidupan saya J..

Balada Jerawat

Aaaah, saya ga ngerti kenapa belakangan ini muka saya jadi jerawatan!!! Padahal biasanya nih muka bebas jerawat lhoo.. Well, yeah, ga mungkin juga sih seumur hidup bebas jerawat.. Dan muka saya juga ga pernah 100% mulus acne-free, tapi biasanya muka saya nih termasuk yang badak banget, jarang bermasalah.. Jerawat nangkring di muka saya cuma kalau saya mau kedatangan tamu bulanan.. Biasa lah, faktor hormon.. Kalau dibandingkan dengan teman-teman saya sih mulus banget lah muka saya..

Tapi ga tau kenapa, dan ga tau sejak kapan juga, kok muka saya jadi banyak jerawat kecil-kecil.. Udah gitu tempat munculnya si jerawat pun aneh-aneh dan ga biasa.. Yang di pipi lah, yang di dekat bibir lah, yang di hidung lah.. Biasanya tuh saya jerawatan cuma di jidat.. Nah sekarang jerawat di jidat pun jadi banyak juga.. Kalau yang di jidat ini sih mungkin cuma karena poni saya sudah terlalu panjang.. Alhasil kemarin saya potong poni deh.. Tapi kalau yang di tempat-tempat lain, kenapa yaaa..

Tampaknya saya mesti segera beli obat jerawat nih.. Padahal biasanya saya ga pernah butuh jerawat, apalagi facial dan peeling segala.. Tapi daripada muka terlanjur ga mulus, cepet-cept deh beli obat jerawat..

Lebaran Part Two

Heiho, mau menyambung cerita Lebaran kemarin nih.. Hari Minggu, atau Lebaran hari ketiga kemarin saya silaturahmi ke rumah pacar.. Wah, senangnya, soalnya saya ga sering-sering banget ke rumah pacar, hanya momen-momen tertentu. Paginya si pacar datang ke rumah, berlebaran dengan keluarga saya, terus meluncur deh kami ke rumah dia.. Pas saya sampai cuma ada mama-papanya.. Maaf-maafan, terus ngobrol-ngobrol deh.. Ga lama kemudian kakaknya yang ketiga datang.. Kakaknya yang kedua sudah pulang ke rumahnya sendiri, sayangnya, jadi saya ga ketemu..

Di rumahnya pacar saya disuguhi makan siang sama mamanya.. Sempat diomelin juga karena ga mau makan banyak-banyak.. Hehe.. Yah, gimana dong, saya kan ga mau menggendut karena menu Lebaran.. Mana di rumahnya banyak kue lagi.. Jadi rada kalap deh makan kue.. Haha.. Ternyata kemarin kakak pertamanya si pacar datang juga.. Wah rumah langsung jadi rame deh.. Apalagi keponakannya pacar saya kan memang berisik banget anaknya.. Hehehe.. Tadinya sih setelah dari rumah orang tuanya saya dan pacar berniat berlebaran ke rumah kakak pertamanya itu, tapi ga jadi deh karena kakaknya ternyata datang.. Ga apa-apa deh, lumayan jadi hemat bensin motor.. Hehe..

Sayangnya, Baby Ilyas lagi rewel banget.. Nangis terus kemarin.. Hampir ga pernah ketawa deh.. Maunya nempel sama ibunya terus.. Mungkin berasa ya mau ditinggal ibunya pergi haji, jadinya manja.. Yang hebohnya lagi, kemarin kakaknya Ilyas diomelin ayahnya karena nakal, jadilah dia pun nangis juga.. Mungkin karena keberisikan suara kakaknya nangis, si baby making a berhenti-henti nangisnya.. Waduh, jadi kayak kompetisi nangis jadinya.. Hehe.. Saya jadi makin bertekad untuk punya satu anak saja setelah saya menikah nanti.. Hihi..

Sejujurnya, saya ga terlalu suka berkunjung ke rumah orang, terus ngobrol-ngobrol, silaturahmi.. Terlalu basa-basi dan buang-buang waktu menurut saya.. Tapi apa daya, memang begitulah kebiasaan di keluarga pacar.. Beda dengan keluarga saya yang antisosial, ga suka kumpul-kumpul keluarga besar karena menganggap itu tidak terlalu berguna.. Karena menghargai kebiasaan di keluarga pacar, dan karena menuruti permintaan pacar juga, ya sudah deh ga apa-apa saya sedikit mengubah kebiasaan .. Toh ternyata banyak yang bisa saya pelajari dengan berkunjung ke keluarga lain..

Lebaran 2010

Huah, masih menikmati masa-masa libur nih (biarpun sebenarnya hampir semua hari saya adalah liburan sih..hehe).. Di rumah kerja saya cuma ngemiiiil aja.. Makan, tidur, internetan, smsan sama pacar.. Nikmatnya dunia.. Hehe.. Tapi mulai hari ini saya berniat untuk mengurangi makan, soalnya takut kebablasan sampai seterusnya jadi makan melulu.. Hehe..

Oya, mau cerita ah soal Lebaran kemarin.. Lebaran hari pertama pasti dong agendanya shalat Ied.. Alhamdulillah tahun ini dapat shalat Ied lagi.. Kalau Lebarannya jatuh di awal atau tengah bulan biasanya saya memang dapat shalat Ied, bukan jadwal bulanan saya soalnya.. Hehe.. Sempat agak bete pas di tempat shalatnya gara-gara ada keluarga yang datang kesiangan terus mereka geser-geser bawaan saya supaya mereka dapat tempat shalat.. Saya ga suka nih sama orang-orang model begini.. Harusnya mereka tahu dong kalau saat shalat Ied pasti tempat shalat tu jauh lebih penuh dari hari-hari biasa, jadi jangan datang siang-siang kalau mau dapat tempat.. Jangan asal geser-geser barang orang supaya bisa dapat tempat.. Dasaaaarrrr…

Pulang shalat sarapan dulu deh pakai ketupat dan kawan-kawannya.. Setelah itu maaf-maafan dengan anggota keluarga yang lain.. Agenda selanjutnya adalah nyekar ke makam.. Beruntung berangkatnya belum terlalu siang, jadi belum kena macet.. Di TPU Tanah Kusir sempat-sempatnya lho saya jajan bakpao coklat dan otak-otak.. Hehe.. Tapi nyebelin, kayaknya harga-harga makanannya dimahalin nih sama penjualnya.. Otak-otak 5 ribu perak cuma dapat seiprit, bakpao satunya 5 ribu, padahal biasanya paling mahal saya beli bakpao cuma 4 ribu harganya.. Tapi berhubung sedang lapar, tak apalah.. Hihi.. Yang jelas, udara pas hari Lebaran kemarin panas banget boo.. Ampun deh, langsung kulit saya bintik-bintik merah karena sinar matahari.. Untung saya bawa minum dari rumah, jadi ga dehidrasi.. Hihi..

Selesai nyekar, pulang ke rumah.. Pas lewat daerah Ragunan, tepatnya Kebun Binatang Ragunan, saya lihat udah banyak aja orang yang datang untuk berwisata ke sana.. Waduh, saya ga pernah bisa ngerti apa enaknya liburan ke tempat-tempat wisata pas musim liburan macam Lebaran.. Rame banget gitu kan, mana bisa santai menikmati suasana.. Sampai di rumah, praktis udah ga ada kerjaan deh saya.. Nonton tivi saja lah, lihat berita mudik.. Hehe..

Yah, begitu lah hari Lebaran di rumah saya.. Relatif ga ada kegiatan penting.. Yang penting sih santai-santainya.. Hehe..